Kisah ini sebenarnya udah lama banget. Kalau gw gak salah pas semester 3 perkuliahan gw, sekarang gw sudah masuk semester 5.
Suatu malam di kantin kampus…….
Seperti biasa sudah ada 3 makhluk yang duduk mengelilingi table kantin, dengan sesajen-sesajen yang sudah lengkap diatas meja, Ice Cappucino (kesukaan gw), sebungkus rokok beserta cricketnya dan cemilan ala kadarnya.
Kami pun mulai komat kamit cerita ngalor ngidul gak jelas, kadang diselingi tawa yang bikin mata sekantin mlototin kita. Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, mulut Ricko angkat bicara.
“Lay…gw mau balik ke semarang, lo berdua mau ikut gak..???”
“Ngapain…? Kan belom lebaran…?” gw nyahut..
“Gw mau bla bla bla…”
Ceritanya panjang banget, lagian aib kalau gw tulis disini, intinya dia pengen jemput pembantu sekalian ngakhirin hubungannya ama ceweknya, tapi pakai cara halus, bahasa gaoelnya “Orang Pintar”, gk tau pintar ngpain… OK, back to problem.
“Soo,, Lo berdua mau ikut gw gak…??
Karena rasa persahabatan kami yang begitu dalam tertanam di dada *Laut kali,, dalamm* akhirnya gw berdua mau nemenin dia.
Berhubung mau ke orang pintar, kita mulai bikin List Permintaan (Sambil Berak Minum Air), List Permintaan tersebut sebagai berikut :
- Ricko : Jemput pembantu dan balik baca point yang diatas.
- Ari : Minta supaya berwibawa, maklum tampangnya gak ada wibawa sama sekali
#bongkar aib.
- Gw : Planningnya mau minta pagar diri, maklumlah sob, gw ngerantau jauh di negeri orang.
Finally, hari yang ditunggu pun tiba, Minggu…… Achhhhh SIAL, gw lupa, semalem kami habis nongkrong begadang semalaman, otomatis gak tidur, pake acara mabok lagi, padahal mau menghadapi perjalanan jauh nan menguras tenaga.
Tepat jam 06.00 WIB waktu jam henpon gw, tanpa sedikitpun memicingkan mata, kita mulai Start dari warung Nyokapnya Ricko. Lumayanlah bisa dapet bekal gratis dari nyokap Ricko yang baik hati.
Nyampe terminal Grogol, kita langsung beli 3 tiket ke Semarang, kalau gak salah Rp. 45.000/orang. Parahnya lagi bis yang kita naikin penuh, jadi gak bisa ngambil kursi 3 sebaris, mau gak mau kita harus duduk misah-misah. Nasib….. Nasibbb.. Alamat gak bisa ngobrol dah, a.k.a BT sepanjng perjalanan, duduk sama orang yng gak dikenal.
Okey, cerita cerita selama perjalan mungkin gak penting buat gw tulis, ngabis-ngabisin telunjuk gw doank. Lagian gak ada something special selama perjalanan, cuman kejebak macet pas di jalan tol, karena ada Truck yang oleng kekiri oleng ke kanan, gw lupa nama tolnya, sebut saja Tol Cipularang, #mungkin nama asli.
Setelah sekian lama terisiksa, akhirnya pantat tepos gw yang aduhai terbebas dari Sindrom Kraminfantat yang menghantui selama di perjalanan, bener banget….. Gw nympe semarang dengan selamat #Alhmdulillah ya, Siswanto banget…
Rumahnya Ricko bagus, cuman sayang aja gak ditempatin, mereka lebih milih mengadu nasib di Kota Metropolitan nan kejam. Malah ngomongin rumah..??? Lanjut ke topic sebenarnya, yaitu tujuan kita ke Semarang. Gw ama Ari disuruh masuk duluan, sedangkan Ricko mau nyari pinjaman motor, buat keperluan transport dari planning awal. Yup,… selang hitungan puluhan menit kemudian, Ricko datang pakai motor bebek, merk gak penting, yang penting bisa jalan.
“Yuuk. Capcuss, langsung menuju TKP..” teriak Ricko
Satu motor trek tiga, kebayang gak..???? gw sama Ricko aja udah 110 kilogram tambah Ari 100 kg, hmmmm malang banget nasib ni motor, mimpi ape dia semalem..
Waktu itu sudah jam 19.00 malam, cuaca gerimis, petir dmana-mana, suara lolongan anjing memecah kesunyian maghrib, dengan langkah gontai sang motor merangkak mengimbangi beban berat di pundaknya. Pas sudah separo perjalanan, tiba-tiba…… jederrrrrr….!!!! Jarum bensin jatuh tersandar tak berdaya di huruf E. Beruntung banget ada tukang bensin eceran pas di depan kami.
“Bang…. Bensinnya donk seliter..” pinta Ricko sambil ngebuka jock motor. Sompretttt…. !!! lobang kunci jocknya udah gak ada, otomatis kita harus nyongkel pake dari telunjuk. Sekian menit pun berlalu, usaha penetrasi jari telunjuk untuk mecapai klimaks di lobang konci jock gagal total.
“Bensinnya jadi gak kang..??” tukang bensinnya nyolot
“Tunggu dulu bang,,” Ari yang dari tadi membisu angkat bicara. “Coba gw yang nyongkel, jari gw ddulu Juara I ngupil tingkat kelurahan..” sambungnya.
Hahahahaha.. stresss… Emang belum jodoh kayaknya, jok belum bisa dibuka, hujannya malah nambah gede. Kita pun mutusin untuk balik kerumah, istirahat sembari menyusun strategi untuk petualangan keesokan hrinya.
Kukuruyuuuukkkk…uhuk…uhuk…. Suasana pedesaan yang bener-bener asri.
Bangun tidur, mandi dan langsung bersiap-siap melanjutkan petualangan yang semalam tertunda. Dengan motor yang berbeda, perjalanan kami mulai. Mencari dari satu kampung ke kampung lain hanya dengan bermodalkan “NAMA” iya,,,, nama, tapi lo tau kan yang gw cari.. bener banget.. “Orang Pintar”, saking pintarnya susah dicari.
Setelah menempuh 3 benua, 2 samudera, satu selat, kita akhirnya dapat titik terang mengenai posisi orang yang kita cari. Sesampainya di pintu masuk,,,,,
“Assalamu’alaikum” layaknya seorang Ustadz yang bertamu ke rumah jemaatnya..
“Waalaikumsalam” terdengar lirih suara cewek menjawab salam kita, pintu dibuka satu sosok wanita setengah bidadari memandang dengan senyuman. “Nyari siapa ya mas..???” Suara manis itu sontak membuyarkan lamunan kami.
“Selamat pagi mbak, ini benar rumahnya Pak Anu.? (Nama disamarkan, demi menjaga privasi)
“Iya mas, tunggu bentar ya, saya panggilin bapak” Sosok bidadari itu pun berlalu menghilang dari hadapan kami, digantikan sosok laki-laki paruh baya. Orangnya berwibawa, dengan sungut manja terpajang dibawah hidungnya.
“Saya Pak Anu, ada keperluan apa ya mas..?? belum sempat kami menyahut, beliau sudah menyalip pembicaraan.. “Oh ya maaf…. Silahkan duduk.” Mawar…!! (Bukan nama sebenarnya) sini nak, bikini minum untuk tamu Bapak”.
Pembicaraan sengitpun berlangung dintara kami.
“Sebelumnya saya minta maaf karena bertamu pagi-pagi, saya tahu tentang Bapak dari Bokap saya, kata beliau Bapak bisa membantu menyelesaikan masalah saya” timpal Ricko.
“Owh gitu, saya bisa bantu, tapi ada maharnya dek, satu permintaan 100 ribu” sahut Pak Anu dengan senyum penuh mencurigakan.
Disaat pebicaraan serius ini akan berlanjut. Sosok Mawar muncul melunturkan konsentrasi kami. Hmmm.. teh anget manis dan sepiring kecil roti disajikan Mawar untuk kami, hanya untuk kami. Mungkin karena tekanan selama perjalanan, tanpa basa basi tangan kami langsung berkelabat menyambar jamuan Mawar. Glek glek glek … segerrrrr…
Yaelah, malah ngomongin masalah makanan, lanjut ke point berikutnya….
Bpk Anu berjalan ke ruang belakang, sembari memanggil Ricko. “ Ricko, ikut Bapak ke belakang nak” (Kapan lo kwin ama mak gw) celutuk Ricko dalam hati. Teng teng teng, setengah jam berlalu, disaat minuman mulai habis dan makanan mulai tiris Ricko muncul sambil senyam senyum. Belum sempat kami bertanya, ada apa gerangan. Sebuah suara memanggil kami
“Nomor selanjutnya…!!! Lu kira Rumah Sakit..??? “
“Giliran lo berdua.” Kata Ricko
“Pas lo sendiri, kenapa giliran gw keroyokan..??” celutuk Ari.
“Udah ikutin aja” timpal gw..
Kami pun berjalan ke ruang belakang, sebuah ruangan, seperti kamar kosong yang lama gak ditidurin. Setelah dipersilahkan duduk. Pak Anu langsung bertanya tentang keperluan kami. Beliau mengeluarkan dua lembar kertas, sembari melipatnya beliau berkata
“Kertas ini bertuliskan Asma Allah dan Khodam-Khodam yang kalin butuhkan, kalian simpan kertas ini didalam dompet, pantangannya kalian tidak boleh membawa kertas ini ketika kencing.”
Dengan berat hati kami menganggukkan kepala. Next… beliau mengeluarkan dua buah botol kecil parfum yang berisi gulungan kertas. Parfum tersebut gak asing buat gw, karena gw sering ngeliatnya di etalase-etalase toko orang Arab. Kalau gak salah merknya “Malaikat Subuh”. #Malaikat subuh???? Malaikat Izrail kali…???? *Kaburrrrr…
“Parfum ini kalian oleskan di alis dan diatas bibir kalian, niscaya orang akan segan dan mendengarkan omongan kalian. Dan kertas tadi, selama kalian taruh di dompet INSYA ALLAH kalian akan dilindungi dari kejahatan oleh Allah SWT..” Cetus Pak Anu
What..??? Cuman itu doang..??? gak ada transfer energy ato ion-ion positive …??? WTF….
Setelah curcol demikian panjang, akhirnya kita kembali keruang tamu. Sesampai di depan, maharpun dikumpulin sesuai permintaan. Ricko dua, gw ama Ari satu, jadi semuanya 400 ribu. Setelah serah terima amplop 400 ribu, kami langsung pamit pulang, karena akan langsung balik ka Jakarta.
Sepanjang jalan kenangan (backsong) kami menggunjingkan barang-barang yang dikasih oleh Pak Anu. Ahhh. Kayknya ketipu, cuman dapat kertas ama parfum doank. Gak ada bukti yang signifikan untuk membuktikan keampuhannya.
Akhir petualangan kami di Cirebon, kami harus balik ke Jakarta kembali ke duni nyata memboyong pembantu Ricko. Salah seorang kerabatnya manggilin becak untuk transport kami ke terminal. Becak….???? Oh My Lord…. Sewaktu ngeliat abg tukang becaknya, gw langsung nangis darah. Gimana gak nangis? Seorang laki-laki paruh baya dengan tubuh kurus gemulai bakal menggenjot kami bertiga….
Ya Allah, ampuni dosa kami….
Singkat cerita, kami langsung naik dengan memasang muka tanpa dosa. Gw sama Ari duduk, sedangkan Ricko pelukan sama Ari.. #suit suit… bunga bangkai berguguran.
Genjot bg… terus bg… semangat bg.. teriak kami membakar semangat sang abang tukang becak. “Ya Allah, coba aja tukang becaknya si gendut Ari, pasti gw gk bakalan ngerasa berdosa gini” Pas di tanjakan gak tau kenapa speed becak melambat… melambat….. melambat….. dan stop. Malahan sekarang berjalan mundur… Rupanya sang abang gak kuat ngegenjot tunggangannya, tanpa aba-aba kami langsung berhamburan menyelamatkan diri dari kecelakaan yang tidak direncanakan tersebut.
Ok. Kelamaan di becak, anggap saja kami sudah sampai diterminal duduk manis menunggu bis. Suck… ternyata lamunan gw salah besar, kami baru sadar kalau kami sudah gak megang duit sama sekali. Duit kepakai semua untuk mahar Pak Anu tadi. ATM gw sama Ricko sudah expired. Harapan satu-satunya tertuju sama ATM Mandiri Ari. Yup. Mudah-mudahan Ari bisa berubah jadi Pahlawan Kesiangan, menyelamatkan kami dari ancaman terlantar di negeri asing.
Muter-mute satu terminal, ATM Mandiri ketemu juga, langsung narik 200 ribu tanpa ngeliat saldo lebih dulu. “Thanks God, kami selamat….” 2oo ribu barter 4 tiket, cuman nyisa 20 ribu, “Oh God.. kami belom makan dari pagi, 20 ribu dapat apaan untuk 4 orang..???
Yang penting bisa nyampe Jakarta dulu, makan bisa ditahan,tapi perih yang gak bisa ditahan. Hik hik hik..Kesialan gak nyampe disitu doank. Pas bis berhenti untuk istirahat dirumah makan, layaknya gembel kami lirik kiri kanan berharap ada makanan yang murah meriah untuk perut kami. Karedoks..???? jawaban satu-satunya,, huhuhuhu. Gw dan Ricko naik bis duluan, sedangkan Ari kami amanahkan menanti bungkusan karedoks siap disajikan. Kambing kali makan sayuran doank..???
8 jam yang benar-benar menyiksa, Alhamdulillah Jakarta menyambut kami tanpa kata-kata. Kami gak ngarepin banyak hal, cuman makan, mandi dan tidur melepas semua kepenatan dan kesedihan ini.
Petualangan yang bener2 melelahkan dan mengasyikkan. Dan apa hasil yang kami dapat..??? NOTHINK…… Semua jimat-jimat itu hanya bohong belaka, mengatasnamakan Tuhan untuk mencari duit. Mulai sekarang kami mencoba hidup sesuai realita, Hidup di dunia nyata tanpa mengusik kehidupan dunia lain…
-TAMAT-
bagus
ReplyDelete